Monday, May 14, 2018

Yang Salah Bukan Agamanya, tetapi...


Halo Sahabat Pembelajar Hipnotis,
Salam Dahsyat Luar Biasa!

Saya (mungkin anda juga) sangat sedih dan prihatin melihat beberapa berita yang terjadi di Negara Indonesia ini, khususnya terkait di Pemboman di Mako Brimob dan Pemboman di Surabaya. Saat mendengar dan membaca berita tersebut, saya langsung berdoa agar keluarga yang ditinggalkan dapat tetap tabah dan kuat.


Di sisi lain, saya juga melihat beragam komentar saling menyalahkan satu sama lain..
  • Ada yang mengatakan ini adalah Settingan, benarkah?
  • Ada yang menyalahkan ini adalah karena Ajaran Agama Tertentu (dalam hal ini yang paling dipojokkan adalah Islam), benarkah?
Saya menulis artikel ini tidak dalam tendency ke salah satu pihak. Saya ingin mengajak Anda, para pembaca, untuk melihat dari sisi lain, yang lebih jernih dan lebih bijak. Saran saya, apabila diri Anda dipenuhi rasa benci, maka jangan dilanjutkan untuk membaca artikel ini. Jika anda tetap memutuskan untuk membaca, maka resiko anda tanggung sendiri.

Cerita Tentang Logika Kucing.


Sebelumnya saya sudah membuat Artikel di Tahun 2016 tentang Bagaimana Filter Pikiran ini bekerja dengan Sebuah Cerita tentang "Logika Kucing" atau Lebih tepatnya "Gara-Gara Kucing".
Karena menurut saya penting dan mendasar, maka anda wajib baca artikel tersebut terlebih dulu sebelum anda melanjutkan untuk membaca artikel ini.

Silakan dibaca di sini! atau klik di sini!

Ketika Pesan disampaikan dari Orang ke Orang.

Salah satu kesulitan kita untuk bisa benar-benar memahami (persisnya) apa maunya Tuhan yang ada di kita suci, relatif lebih sulit. Mengapa? karena ketika Kitab Suci ada, kita yang ada di generasi saat ini tidak bisa bertanya secara langsung dengan Penulis Kitab Suci atau kepada Sang Maha Kuasa, hanya untuk sekedar klarifikasi pemahaman yang mana yang benar.

Jadi Meskipun semua ajaran Agama sudah tertulis di dalam Kitab Suci, kita perlu seseorang untuk memberitahu kita maknanya atau tafsirannya. Karena tulisan di Kitab Suci sangat dipengaruhi berbagai konteks yang membungkus konten di dalamnya. Namun sekali lagi, kita tidak bisa langsung bertanya kepada Penulis. Trus, bagaimana solusinya?

Cara terbaik adalah melalui perantara-Nya. Yah, kita bisa menyebutnya sebagai pemuka masing-masing agama. Mereka dianggap sebagai seseorang yang sudah punya "ilmu" atau punya kompetensi untuk menjelaskan kepada kita apa sebenarnya maksud dan tafsiran di dalam Kitab Suci.

Namun, berbicara tentang pemuka agama ini, maka kita juga berbicara tentang sosok manusia (yang punya keterbatasan dan ketidaksempurnaan) baik dalam berbicara (menjelaskan sesuatu) maupun dalam memahami sesuatu.

Di Agama saya sendiri, saya sering mendengarkan bahwa terhadap ayat yang sama, dua orang (pemuka Agama) bisa berbeda pendapat. Siapakah yang benar? Teman saya yang berbeda agama juga mengalami hal yang sama dimana dia sering mendapatkan tafsiran yang berbeda atas satu atau dua ayat di Kitab Sucinya. Jadi Siapakah yang benar?

Tentu Saja saya tidak tahu, karena mereka sendiri mendapatkan pemahaman itu pastinya dari orang lain yang mengajarkan kepada mereka. Yah, Ajaran ini telah berpindah dari generasi awal ke generasi sekarang secara turun temurun, bukan mendengar langsung atau bertanya langsung kepada si penulis kitab suci.

Pernah memainkan Permainan "Pesan Berantai"?



Sebuah permainan sederhana dimana satu kelompok terdiri dari 5 orang atau lebih, dan orang pertama menyampaikan pesan kepada orang kedua, lalu orang kedua kepada orang ketiga hingga kepada orang kelima (terakhir).

Yang menarik adalah sangat sulit bagi si orang kelima (orang terakhir) untuk menerima pesan yang sama persis seperti yang dimaksud oleh orang pertama.

Seperti cerita tentang "Gara-Gara Kucing" tadi, dimana semakin jauh jarak kita dengan "orang pertama" (yang menulis Kitab Suci) ini, maka semakin besar kemungkinan perbedaan penafsiran yang dimana tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang benar.

Mengapa Ada Orang Mau Meledakkan dirinya dalam Bom Bunuh Diri?

Dari sudut pandang Pikiran Bawah Sadar, Tindakan Ekstremis adalah sesuatu yang bisa terjadi jika dipicu oleh Motivasi Emosional yang sangat intens. Emosional yang sangat intens ini bisa berupa marah yang memuncak, sakit hati yang memuncak, rasa benci yang memuncak, atau Motivasi Emosi lainnya yang sudah memuncak.

Pertanyaan selanjutnya adalah:
"Bagaimana Motivasi itu bisa muncul?" Tidak lain dan tidak bukan adalah dari Seseorang (yang lain) yang Mempengaruhinya (Doktrin)

Doktrinasi adalah Repetisi

Untuk mendoktrin seseorang (dalam pengertian doktrin yang negatif), tidak mungkin dilakukan semalam, perlu setidaknya dua hal:
1. Target Seseorang yang didoktrin yang mudah dipengaruhi (awam).
2. Dilakukan di Tempat dan Situasi yang mendukung.

Lalu proses doktrinasi tersebut dilakukan Berulang-ulang (Repetisi) sampai yang didoktrin melihat "kebenaran" dari ajaran yang telah didoktrin kepadanya. Dia menjadi percaya dan ajaran-ajaran doktrinasi tersebut akhirnya masuk ke dalam pikiran bawah sadarnya menjadi sebuah keyakinan yang dianggap benar. Selanjutnya Si Pendoktrin ini, perlu mempengaruhi orang tersebut untuk melakukan sesuatu. Karena itu, si Pendoktrin perlu mempengaruhi sisi emosinya dengan mengkaitkan dengan ajaran-ajaran yang sudah disampaikan sebelumnya (dalam NLP ini disebut dengan teknik Framing dan Reframing).

Ketika hal ini terus menerus dilakukan (repetisi) maka di suatu waktu tertentu (momentum), perintah untuk melakukan sesuatu yang radikal pun bersedia dilakukan oleh orang yang didoktrin tersebut, termasuk melakukan bom bunuh diri (dengan iming-iming sesuatu baik berupa Nilai, Harga Diri ataupun Harta).

Cerita di Ruang Klinik

Saya pernah melakukan hipnoterapi seseorang mantan anggota DI/TII dimana saat itu si klien meminta diterapi agar memiliki ketenangan batin dan bisa memaafkan diri sendiri. Klien sharing bahwa ketika yang bersangkutan keluar dari organisasi DI/TII, dia dan keluarganya dicari dan dikejar oleh orang-orang DI/TII. Mau tidak mau, klien saya dan keluarga hidup berpindah-pindah, hingga memutuskan pindah ke luar pulau. Bertahun-tahun dia hidup dalam ketakutan dan pelarian. Saat dulu menjadi anggota DI/TII dia punya salah satu jabatan dengan tugas khusus (maaf saya tidak bisa ceritakan).

Lalu kenapa dia keluar? Karena klien saya menyadari bahwa "Islam" yang diyakininya itu bukan seperti ini (yang diajarkan DI/TII). Mereka menggunakan "Islam" untuk memperalat orang yang awam tentang agama. Menurutnya Islam yang sebenarnya adalah Agama yang Penuh Cinta dan tidak menebarkan kebencian (apalagi membunuh orang lain).

Saya setuju dengan klien saya, karena saya juga meyakini bahwa setiap Agama pada dasarnya mengajarkan Kebaikan dan Cinta Kasih. Agama boleh berbeda, namun Rasa Cinta atas Kasih kepada sesama itu harus tetap sama kuatnya.

Yang Salah Bukan Agamanya, tetapi...

Sebenarnya artikel ini saya tulis, karena seringnya masuk pertanyaan, "Siapa yang disalahkan dengan Kejadian ini? Jangan-Jangan karena Ajaran Agamanya seperti itu ya?"

Saya hanya bilang bahwa yang salah bukan Agamanya, tetapi Orangnya. Dia memahami Agama dari sesorang yang tidak memiliki Rasa Cinta Kasih dan Rasa Kemanusiaan.

Agama tertentu mungkin boleh jadi tercantum pada kartu identitas orang tersebut, tapi perbuatan tetaplah menjadi tanggung jawab pribadi orang tersebut. Namun lebih dari itu, Pihak yang paling saya salahkan adalah orang-orang yang mengajarkan/mempengaruhi kepada banyak orang tentang paham radikalisme dan terorisme ini, Yah Siapapun dia.

Mengapa? karena merekalah maka tercipta orang-orang radikal tersebut, dan orang-orang seperti itu pasti tidak akan pernah berhenti memperalat lebih banyak orang lain, sampai keinginannya tercapai.

Saya berharap, dengan kejadian ini, Indonesia tidak menjadi dilingkupi dengan rasa takut, tetapi semakin bersatu dan semakin kuat untuk memberantas masalah terorisme ini.



"Cinta & Rasa Kemanusiaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika seseorang kehilangan cinta, maka orang tersebut juga akan kehilangan rasa kemanusiaannya." ~ Rezky Daniel

Semoga Bermanfaat,
Salam Dashyat Luar Biasa!

©Rezky Daniel
- Certified International Hypnotherapist by IACT- USA 
- Founder smarthipnotis.com - Pusat Belajar Hipnotis Hipnoterapi Terbaik di Indonesia
- Founder klinikhipnoterapi.id - Klinik Hipnoterapi No.1 di Indonesia




Ingin Mengundang Beliau ke Instansi Anda? ataupun ingin mendapatkan Informasi Jadwal Pelatihan Hipnoterapi, NLP dan Coaching bersama Beliau? Silakan Hubungi: 0812-8446-0494 atau 0896-7370-0228
 

Ingin Mengundang Beliau ke Instansi Anda? ataupun ingin mendapatkan Informasi Jadwal Pelatihan Hipnoterapi, NLP dan Coaching bersama Beliau? Silakan Hubungi Sekarang Juga: 0812-8446-0494 atau 0896-7370-0228
Via SMS TELP dan Whatsapp

Anda Menyukai artikel ini? Bagikan melalui :

Facebook Google+ Twitter
Join US