Tuesday, May 13, 2014

Menghargai Persepsi Orang Lain

Orang Buta dengan Persepsinya masing-masing
Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menemukan bahwa kehendak dan keinginan Anda tidak tercapai dalam hidup bersama? Anda marah? Atau Anda berusaha untuk menerima apa adanya?

Alkisah, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat sang putri tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.


Suatu ketika di musim dingin, saat selesai membuat kue, sang janda melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar si putri menunggu di rumah, karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, janda itu menemukan pintu rumah tidak terkunci. Putrinya pun tidak ada di rumah.

Sang ibu menjadi marah. Ia merasa putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Putrinya tidak menunggui rumah seperti pesannya.

Dalam suasana seperti itu, janda itu menyusun kue ke dalam keranjang dan kemudian pergi untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Mau apa lagi? Mereka harus dapat uang untuk makan. Sebagai hukuman bagi putrinya, pintu rumah dikuncinya dari luar, agar putrinya tidak bisa masuk. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, karena ia sudah berani kurang ajar.

Tetapi sepulang menjajakan kue, janda itu terkejut luar biasa. Ia menemukan gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Ia berlari memeluk putrinya yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Ia berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi putrinya tetap tidak bergerak. Ia segera membopong putrinya masuk ke dalam rumah.

Ia menggoncang-goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan namanya. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan putrinya. Ia mengambil bungkusan kecil itu dan membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Ia mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan putrinya yang masih berantakan namun tetap terbaca.

Tulisan itu berbunyi, “Hai, mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hai, mama, selamat ulang tahun. I Love U mom!”
Sahabat, kita sering menilai orang lain menurut persepsi kita. Kita merasa bahwa orang lain mesti berpikir seperti yang kita pikirkan dan bertindak seperti yang kita inginkan. 

Kisah di atas menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk tidak langsung cepat mengambil kesimpulan terhadap perbuatan atau tindakan orang lain. Setiap orang memiliki persepsi atau cara pandangnya masing-masing untuk tujuan tertentu. 

Lihat sekeliling kita, mengapa seseorang bisa mengalami perselisihan atau konflik? jelas, perbedaan persepsi adalah jawabannya. 
Bagaimana sering sekali para suami yang langsung memarahi isterinya karena bangun pagi kesiangan sehingga tidak sempat membuat sarapan, tanpa mencoba mengerti apa yang menyebabkan hal tersebut. Bagaimana juga seorang isteri yang langsung marah kepada suami yang tidak dapat membelikan perhiasan kepadanya. Masih banyak yang lainnya.
Belajar Mencintai dan Menghargai Orang Lain harus diawali dengan belajar Menghargai Persepsi Orang Lain.
Selamat Belajar!
Salam Hipnotis
Dahsyat Luar Biasa!


Rezky Daniel
- International Certified Hypnotherapist
- Founder Smart Hypnotist Center

Ingin Mengundang Beliau ke Instansi Anda? ataupun ingin mendapatkan Informasi Jadwal Pelatihan Hipnoterapi, NLP dan Coaching bersama Beliau? Silakan Hubungi: 0812-8446-0494 atau 0896-7370-0228
Join US