Tuesday, March 11, 2014

Mengatasi Perilaku Anak yang "Bermasalah" - HypnoParenting

Salah satu penyebab anak berubah sikap atau perilaku, yang dalam bahasa awam disebut "bermasalah", adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang yang orangtua berikan pada anak dan orangtua tidak tegas. Saya sering memberikan konseling kepada para orangtua yang membawa anaknya jumpa saya untuk "dibereskan".

Sebelum jumpa anaknya saya selalu minta jumpa kedua orangtua terlebih dahulu. Di sesi awal ini saya melakukan wawancara mendalam mengenai proses tumbuh kembang anak dan interaksi orangtua, saudara, dan orang-orang di rumah dengan si anak. Umumnya, dan ini hampir terjadi pada semua kasus yang pernah saya tangani, masalah anak muncul akibat tangki cintanya kosong. Kalau menggunakan bahwa yang lebih puitis, jiwa anak mengalami kekeringan dan merana akibat kemarau panjang kasih sayang.

Biasanya orangtua tidak mau disalahkan, padahal saya tidak menyalahkan dan hanya mengungkap fakta. Orangtua berkilah mereka telah memberikan kasih sayang yang cukup pada anak.

Saat saya tanya, "Bapak/Ibu, berapa waktu yang Anda berikan pada anak setiap hari? Apakah Anda menyempatkan diri bicara dengan anak? Apakah sempat menemani anak belajar?"

Intinya saya menanyakan waktu berkualitas yang mereka berikan pada anak karena ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mengisi tangki cinta anak.

Umumnya orangtua menjawab, "Kami sama-sama sibuk. Jadi, yang kami lakukan adalah setiap pulang kerja kami menyempatkan memberi waktu sepenuhnya pada anak kami."

"Berapa lama waktu yang Anda berikan?" tanya saya.

"Kalau saya, sekitar 30 menit," jawab si Ayah.

"Kalau Ibu?" tanya saya.

"Ya.. kalau saya sekitar 1 jam, Pak," jawab si Ibu.

"Apa yang Anda lakukan saat memberikan waktu berkualitas ini pada anak Anda?" tanya saya lagi.

"Kami menemani anak kami. Kalau pas anak lagi belajar...kami duduk di dekatnya," jawab mereka.

"Apa yang Anda lakukan saat menemani anak Anda?" tanya saya lagi.

"Daripada bosan, saya browsing internet atau BBM sama teman," jawab mereka.

"Kalau anak lagi tidak belajar apa yang Anda lakukan?" tanya saya lagi.

"Kami menemani anak nonton tv," jawab mereka.

Sahabat FB, ini yang seringkali kita orangtua salah mengerti. Menemani anak, memberikan anak waktu berkualitas artinya kita tidak hanya dekat secara fisik tapi juga secara emosi. Menemani anak nonton tv tidak masuk kategori waktu berkualitas. Mengapa? Karena saat nonton tv tidak terjalin komunikasi.

Hal lain yang kita sering abai adalah saat menemani anak pikiran dan hati kita tidak berada di tempat yang sama dengan tubuh fisik kita. Benar, kita sudah menyediakan waktu untuk anak, menemani anak. Dan seringkali saat ada di dekat anak kita sibuk dengan gadget, entah main game, browsing internet, sibuk chatting, WA, atau BBM.

Anak tahu bahwa orangtua yang lagi sibuk sendiri sebenarnya tidak hadir untuk diri anak. Dan ini tidak bisa mengisi tangki cintanya.

Satu lagi, untuk bisa disebut waktu berkualitas harus memenuhi dua syarat yaitu kualitas (jalian komunikasi dengan intensitas emosi positif yang tinggi) dan kuantitas (waktu yang memadai/cukup).

Bila anak diibaratkan gadget atau HP maka untuk men-charge baterei HP dibutuhkan sumber daya yang sesuai dan waktu yang cukup. Setiap baterei punya karakteristik tertentu. Kita tidak bisa memaksa baterei untuk cepat full walau menggunakan charger dengan ampere yang besar. Kalau dipaksakan, baterei bisa rusak. Demikian pula anak-anak kita.

Selain itu, saat ini karena kebanyakan orangtua sibuk dengan gadgetnya maka sudah jarang lagi terjadi kontak mata yang intens saat berbicara dengan anak. Ini satu kehilangan besar yang tidak kita sadari namun sudah mewabah.

Saran saya, untuk para orangtua, saat pulang ke rumah, beri diri Anda waktu sejenak untuk istirahat, untuk memulihkan kondisi fisik, mental, dan emosi Anda. Umumnya kita butuh sekitar 30 menit sampai 1 jam. Setelah lebih fresh, barulah kita beri waktu untuk anak.

Dan yang juga sangat penting adalah beri suami dan istri perlu saling mengisi tangki cinta masing-masing. Kita tidak bisa memberi sesuatu yang tidak kita miliki. Bila hati kita kering kasih sayang maka kita tidak akan bisa memberi kasih sayang pada anak.

Cara lain yang sangat efektif mengisi tangki cinta adalah dengan melakukan Hypno-Sleep pada anak. Tentu, dengan sugesti yang sesuai.

Di awal saya menyinggung tentang ketegasan orangtua. Ini juga sangat perlu dilakukan. Anak sangat cerdas dan biasanya dapat dengan mudah memanipulasi orangtua demi keuntungannya. Di sinilah kita sebagai orangtua perlu sadar dan tegas pada anak. Bila tangki cinta anak sudah terisi penuh maka tidak ada alasan untuk tidak berani bersikap tegas dan mengarahkan anak.

Banyak orangtua bersikap terlalu lunak sehingga menjadi permisif. Ini justru sangat tidak baik untuk anak. Jangan khawatir untuk bersikap tegas. Anak tidak akan trauma. Ingat ya, sikap tegas beda dengan kasar.

Sikap tegas bisa dilihat pada acara Nanny 911. Di sini para Nanny bersikap tegas pada anak. Dan dengan cepat anak berubah sikap dan perilaku.

Tough love is the sweetest love atau cinta yang tegas adalah cinta yang paling indah.

 Bagaimana menurut Anda?

NB: Artikel di atas diambil dari Sharing dari Guru dan Sahabat saya, Bapak Adi W.Gunawan (Professional Hypnotherapy di Indonesia). 

Sukses Selalu.

Rezky Daniel
- International Certified Hypnotherapist
- Founder Smart Hypnotist Center

Ingin Mengundang Beliau ke Instansi Anda? ataupun ingin mendapatkan Informasi Jadwal Pelatihan Hipnoterapi, NLP dan Coaching bersama Beliau? Silakan Hubungi: 0812-8446-0494 atau 0896-7370-0228
Join US